Rabu , 16 Januari 2019
Beranda » Lingkungan » PVMBG: Semua Kecamatan di Bandung Barat Rawan Pergerakan Tanah

PVMBG: Semua Kecamatan di Bandung Barat Rawan Pergerakan Tanah

Harianjawabarat – Menyusul mulai masuknya musim penghujan, Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan data daerah-daerah yang berpotensi mengalami pergerakan tanah di Provinsi Jawa Barat.

Khusus di Kabupaten Bandung Barat, PVMBG mencatat semua kecamatan berpotensi mengalami pergerakan tanah menengah hingga tinggi. Sementara untuk tiga kecamatan, yakni Cisarua, Parongpong dan Lembang patut diwaspadai karena selain pergerakan tanah, juga berpotensi mengalami banjir bandang.

Daerah yang berbatasan dengan lembah, sungai, gawir, dan tebing jalan memiliki potensi gerakan tanah menengah jika curah hujan di atas normal. Sedangkan daerah yang mempunyai potensi tinggi, disebutkan pergerakan tanah bisa terjadi jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat Duddy Prabowo mengakui salah satu dari tujuh potensi bencana di Bandung Barat adalah ancaman pergerakan tanah atau longsor.

“Jadi, sesuai dengan indeks risiko bencana yang dikeluarkan BNPB, Bandung Barat termasuk kategori risiko bencana yang tinggi. Mulai dari longsor, pergerakan tanah, kekeringan, gunung merapi, gempa bumi sampai dengan kebakaran lahan,” ungkap Duddy, Minggu (14/10).

Untuk menghadapi berbagai ancaman bencana, terang Duddy, pihaknya telah membentuk dua desa tangguh bencana. Diharapkan, 165 desa lain di Bandung Barat bisa dibentuk desa tangguh bencana supaya secara kelembagaan siap ketika menghadapi bencana.

Disamping itu, BPBD Bandung Barat akan masuk ke tiap sekolah untuk menyosialisasikan sekolah siap bencana yang menyasar tenaga pendidik serta siswa.

Tahun ini, rencananya kita masuk ke sekolah untuk sosialisasikan daerah rawan bencana di wilayahnya,” tuturnya.

BPBD juga meminta masyarakat untuk terlibat dalam pencegahan bencana, khususnya saat memasuki musim penghujan.

“Memang tidak semuanya bisa dilakukan pemda, harus ada kerja sama atau koordinasi antara pemerintah, masyarakat serta dunia usaha untuk menyosialisasikan potensi bencana, termasuk sesar Lembang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung Tony Agus Wijaya memperkirakan awal musim hujan di wilayah Jabar akan terjadi pada akhir bulan Oktober. Meski di sebagian wilayah sudah turun hujan, menurut Tony, saat ini Jabar masih berada pada masa peralihan atau pancaroba. (MI)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *