Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Kesehatan » Ketua DPR Prihatin 7.965 Anak Cimahi Alami Gizi Buruk

Ketua DPR Prihatin 7.965 Anak Cimahi Alami Gizi Buruk

Sebanyak 7.965 anak di Kota Cimahi mengalami gizi kronis (stunting) yang diakibatkan kurangnya asupan gizi sejak di kandungan dan dua tahun pertumbuhan. Dinkes Cimahi kini memaksimalkan peran dari 13 ahli gizi di setiap Puskesmas.

Sekretaris Dinkes Kota Cimahi, Fitriani Manan, mengakui 13 ahli gizi yang tersedia tidaklah cukup. Mereka akan dibantu para kader kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang gizi anak di setiap posyandu. “Kita punya sekitar 400-an posyandu, maka penyuluhan akan dibantu tenaga puskemas lain, bidan, perawat, serta kader kesehatan.”

Merespon kasus stunting, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan pemerintah untuk terus bersinergi mengatasi kasus gangguan pertumbuhan akibat gizi buruk kronis atau stunting. “Saya mengkhawatirkan masih adanya kasus stanting di sejumlah daerah di Indonesia”, katanya melalui pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Kamis (23/8).

Bambang yang akrab disapa Bamsoet menyebutkan hal itu menanggapi kasus stanting yang terjadi di Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT) dan Sulawesi Barat yang melampaui angka 40 persen, serta di Kota Cimahi, Jawa Barat, tercatat ada sebanyak 7.965 anak megalami stanting.

Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), di Indonesia tercatat ada sekitar 7,8 juta balita dari 23 juta balita adalah penderita stunting atau sekitar 35,6 persen. Dari jumlah 7,8 juta balita tersebut, sebanyak 18,5 persen kategori sangat pendek dan 17,1 persen kategori pendek. Ia meminta Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan Tim Nasional

Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda), untuk bersinergi memaksimalkan pelaksanaan program penanganan stunting sebagai upaya penanggulangan masalah kurang gizi di Indonesia.

Politisi Partai Golkar tersebut berharap kementerian dan lembaga (K/L) yang terkait dengan giri buruk dapat menggenjot upaya pencegahan stunting. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), kata dia, agar menggerakkan Pemda untuk mendorong masyarakat di pedesaan memanfaatkan dana desa guna mendirikan Posyandu, membangun fasilitas kesehatan maupun sanitasi yang layak.

Bamsoet meminta Kemenkes agar terus melakukan edukasi dan kampanye tentang manfaat air susi ibu (ASI) eksklusif bagi bayi, sebab  ASI eksklusif memiliki kontribusi penting bagi  pertumbuhan dan daya tahan anak. “Sekaligus mensosialisasikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menjalankan pola hidup sehat agar terhindar dari segala macam penyakit,” kata Bamsoet.