Minggu , 19 Agustus 2018
Beranda » Ekonomi » Penyerapan Gabah 4,4 Juta Ton Bakal Terkendala

Penyerapan Gabah 4,4 Juta Ton Bakal Terkendala

Harian Jawa Barat – Petani di sejumlah wilayah Jawa Tengah menjerit karena harga gabah anjlok hingga Rp 3800 per kilogram. Namun, Badan Urusan Logistik (Bulog) belum banyak melakukan pembelian gabah sebagai upaya perkuat beras cadangan pemerintah yang juga ikut anjlok.

Akibatnya, penugasan pemerintah serap gabah 4,4 juta ton gabah berpotensi terkendala.

“Harga gabah sekarang turun Rp 3800 per kilogram. Turunnya harga gabah ini merata di seluruh wilayah Grobogan,” jelas Kastuari, petani di Desa Menduran, Kabupaten Grobogan, Minggu (11/2).

Dia mengatakan, anjloknya harga gabah lebih disebabkan tingginya curah hujan. Akibatnya, sepekan ini gabah petani kurang mendapat penyinaran matahari sehingga susah kering.

Padahal dulu saat cuaca bagus bisa Rp 4200 hingga Rp 4500 per kilogram. Tapi sepekan ini terus mengalami penurunan sampai Rp 3800.

Sayangnya, harga yang turun drastis tidak dimanfaatkan Bulog untuk melakukan pembelian gabah petani. Menurut Kastuari, hingga saat ini dirinya belum mendengar kabar Bulog turun untuk melakukan aktivitas pembelian gabah.

“Memang sudah ada Babinsa foto-foto ambil gambar, tapi saya belum dengar akan ada pembelian gabah oleh Bulog. Justru di sini yang beli tengkulak-tengkulak. Biasanya mereka (Bulog) maunya beli beras langsung dari penggilingan,” beber ketua Gapoktan Mawar Sari itu.

Kastuari yang memiliki lahan seluas dua hektare itu mengaku tidak kaget dengan situasi tersebut. Menurutnya, sudah lazim jika Bulog enggan membeli gabah langsung dari petani. Meski sudah ada Tim Sergap bentukan Kementan untuk beli gabah langsung dari petani, dia ragu tim efektif di lapangan.

“Kenyataannya begitu di lapangan, itu fakta. Apalagi Bulog yang cuma program-program saja tapi faktanya tidak ada,” tutur dia.

Senada dilontarkan Sukardi, petani dari Gapoktan Tani Maju Kabupaten Sragen. Menurutnya, harga gabah di daerahnya juga menunjukkan tren penurunan dari semula awal panen perdana Rp 5500 per kilogram kini turun menjadi Rp 4200 hungga Rp 4400 per kilogram. Salah satunya disebabkan karena sudah panen serentak.

Turunnya harga gabah juga dikarenakan faktor cuaca. Namun dia memprediksi harga akan terus mengalami penurunan mengingat mesin penggilingan belum sepenuhnya beroperasi.

“Kendalanya cuaca, mau jemur saja susah makanya turun drastis. Tapi harga beras masih tinggi,” jelas dia.

Mengenai adanya Tim Sergap yang turun lapangan beli langsung gabah petani, Sukardi mengaku sudah mendengardari berbagai sosialisasi yang dilakukan Babinsa dan penyuluh di lapangan.

“Memang sudah turun, sudah sosalisasi tapi belum beli karena harganya belum terjangkau,” bebernya.

Sukardi menduga belum adanya aktivitas pembelian karena Bulog hanya mau membeli dengan harga sesuai HPP yaitu Rp 3700 per kilogram. Selain itu, curah hujan juga masih tinggi sehingga berpengaruh pada kualitas gabah.

“Harapan kita untuk Bulog di Sragen kalau sudah panen pertama begini agar bisa nampung agar harganya tidak jauh dengan petani di luar. Apalagi di Sragen masih banyak panen serentak di Februari, makanya penggilingan belum mau beli karena kendalanya cuaca,” paparnya. [jar]